Saya bukan siapa-siapa dan saat inipun belum menjadi apa-apa. Namun kabar baiknya saya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini paling tidak, if i don’t trust that… setiap kita sudah disiapkan sebuah atau lebih peran yang terbesar sebenarnya dalam kehidupan kita. Selebihnya apakah kita sudah betul-betul mempersiapkan segala sesuatunya untuk meraihnya atau tidak? We have a big determination for the winner or not? Demikian halnya dengan karier dalam pekerjaan, segalanya belum berakhir dan berhenti sampai disini saja… meski belum menjadi siapa-siapa but at least saya sudah berani bilang, i am expert in my job, meski hanya menjadi ikan kecil namun saya memberi arti dan menjadi komunitas sebuah kolam yang besar.
Kecil Tapi Menggigit
Bagaimana agar bisa menjadi little fish but can be calculated oleh perusahaan dimana kita bekerja? Bahwa kita harus memiliki sebuah karakteristik yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebuah ciri khas yang akan membedakan kita dengan rekan kerja yang lain. Dimana orang akan langsung bisa menebak bagaimana ending setiap pekerjaan kita. Tidak selalu harus berhasil namun ada sebuah added value yang bisa semua orang petik bilamana kita gagal. Bukan sebuah pekerjaan yang gampang untuk mengetahui siapa kita, seperti apa sih kita? Namun bukan hal yang tidak mungkin pula bagi setiap orang untuk memahaminya.
Jika Eileen Rachman & Sylvina Savitri dalam artikelnya yang berjudul “Kita Memang Beda” mengatakan kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: ”Kita beda”, maka menurut pendapat mbak-mbak tersebut, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan “value adding”-nya, sebagai manusia yang utuh.
Mungkin konsepnya akan seperti itu untuk mengetahui seperti apakah diri kita. Bisa mengatakan kita beda tentunya tidak akan terlontarkan apabila kita sendiri tidak memahami bagaimana sebenarnya diri kita. Bisa mengatakan kita beda berarti kita telah menemukan kesamaannya yakni kita sudah menemukan diri kita masing-masing seperti apa. Agar kita diperhitungkan tentunya kita harus membuat personal brand yang kuat dan beda dengan yang lainnya. Menemukan berbagai kelebihan dan mengoptimalkannya, mengetahui segala kekurangan dan meminimalisirnya. Jangan pernah untuk menghindar dari masalah, malahan jika perlu mintalah kita yang menyelesaikan jika sedang terjadi masalah. Ikan di air yang tenang tidak akan pernah lebih besar dibanding dengan ikan di arus yang deras. Jika kita menyadari bahwa setiap kita sudah disiapkan sebuah peran yang besar dan menanti kita untuk meraihnya tentunya tidak ada jalan lain kecuali dengan menghargai peran apapun yang saat ini kita miliki dan melaksanakannya dengan suka cita dan penuh tanggung jawab. Bukankah parameternya sederhana, jika kita tidak menghargai peran yang kita miliki saat ini bagaimana kita akan dipercaya untuk peran yang lebih besar lagi? Kata MD saya, kalau memang belum bisa jadi gajah, jadilah semut namun yang menggigit.
Berstrategi Untuk Meraih Peran Terbesar Kita
Berstrategi itu adalah lain dengan berpolitik. Seseorang yang berstrategi tentulah dia orang yang dewasa dan capable dibidang pekerjaannya. Sedang berpolitik tidak harus memiliki semua itu, mahir oleh kemampuan jilat menjilat saja kita sudah bisa berpolitik dan mendapatkan apa yang kita mau. Seperti itulah gambaran betapa dangkalnya seseorang yang berpolitik di kantor. Lantas seperti apakah berstrategi dan bukan berpolitik itu?
Dimanapun, entah di kolam besar ataupun kolam kecil menjadi ikan kecil adalah keasyikan tersendiri. Menjadi ikan kecil dimanapun berada adalah keleluasaan dan terbuka lebarnya kesempatan buat si ikan untuk mengembangkan diri. Namun mengembangkan diri ini tidak sama dengan membuat besar dengan cara-cara berpolitik seperti saling sikut, saling menjatuhkan, saling mencaplok sesama teman namun lebih berarti mengembangkan diri dengan belajar untuk ahli dibidangnya. Keuntungan bagi ikan kecil yang pintar tentunya mempunyai kesempatan belajar yang tidak terbatas namun bermain dengan tanggung jawab yang tidak terlalu besar.
Berawal dari situlah sebenarnya kita sudah mulai berstrategi. Kehadiran kita sudah benar-benar dibutuhkan oleh sinergi kerja di perusahaan kita. Saatnya bagi kita untuk menunjukkan prestasi, seperti apapun penghargaan perusahaan atas kinerja kita. Hanya saja rule of the game nya kita tidak boleh menuntut penghargaan atas kinerja kita kepada perusahaan. Karena penghargaan yang diminta sebagai timbal balik akan kehilangan nilainya. Itu bukan strategi namun dengan sengaja kita membunuh karakter yang sudah kita bangun sendiri. Diperusahaan yang besar mungkin saja prestasi yang sudah kita berikan tidak akan terlihat oleh top-top manajemen perusahaan dan lantas membuat kita melenggang kepada tanggung jawab yang lebih besar lagi. Bisa jadi karena tingginya tingkat kompetisi dan orang-orang yang berpolitik. Tidak mengapa, tidak perlu gusar. Toh kita tetap diuntungkan dengan menjadi bagian dari perusahaan besar dan nilai tawar kita menjadi tinggi. Peran paling besar yang disiapkan untuk kita kan tidak selalu berada pada perusahaan dimana kita bekerja sekarang ini? Yang penting kita sudah belajar sebanyak-banyaknya, melakukan yang terbaik dan seumpama kita ingin mencoba untuk menjadi ikan yang besar hanya tinggal cari waktu yang tepat, perusahaan yang tepat dan mencoba melamar untuk posisi dan gaji yang lebih tinggi.
Dan ending dari semua strategi adalah ketika kita bisa bernegosiasi kembali kepada perusahaan kita ketika ada perusahaan lain yang membutuhkan kita dengan posisi dan gaji yang lebih tinggi. Tidak ada salahnya kan jika sekali-sekali kita yang memberikan pilihan.
Bukankah berstrategi ternyata lebih elegant dibandingkan dengan berpolitik (kantor)?
Cat :
- Kata “Berpolitik” yang dimaksud dalam artikel ini adalah “Berpolitik Kantor”, -update tgl 8/09/08-
- Judul pertama artikel adalah “Berstrategi Beda Dengan Berpolitik” saya ganti dengan “Berstrategi Bukan Berpolitik”, -update tgl 11/09/08-











11 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
September 7, 2008 pada 4:33 pm
aRuL
bukannya berstrategi itu sama aja dengan berpolitik, cuman berpolitik itu ada yang halal ada yang menghalalkan segala cara
September 7, 2008 pada 4:49 pm
Kurt
berstrategi memang lebih umum ya bos, tapi kalau politik itu lebihkepada kekuasaan. Tapi agaknya kalau saya sih memandang jika hidup penuh rekayasa (dipolitisir) kayanya lebih ribet dibanding easy going aja … tapi memang sih, dunia marketing atau business perlu strategi yang matang untuk memenangkan persaingan.. lah kalau memanangkan persaingan apa sama juga dengan politik bos?
September 7, 2008 pada 8:56 pm
edratna
Dalam bahasa sederhana, bos saya (salah satu Direktur BUMN), pernah mengatakan “Buatlah anda needed”….yang artinya bahwa kita punya peran yang tak mudah digantikan oleh orang lain.
Dalam pekerjaan kita juga perlu mengenal adanya politik kantor, namun hendaknya harus dijaga jarak, agar kita tak larut pada kelompok tertentu. Akan lebih mudah jika tetap menjaga jarak dan baik pada masing-masing kelompok, fokus pada pekerjaan, sehingga masing2 kelompok merasa nyaman pada keberadaan kita dan tak merasa dirugikan.
September 9, 2008 pada 2:58 am
yessymuchtar
you shold come to my office, and see..how scary and horor the politics at my place…
September 11, 2008 pada 6:12 pm
fauzansigma
gunakan strategi tsun zu…
September 11, 2008 pada 6:17 pm
fauzansigma
politik di kantor… jadi kantor jg merupakan lembaga politis, yah saya pikir sgela hal yg da di dunia ini ga bisa lepas dari yg namanya politik
September 25, 2008 pada 10:29 pm
Ivana
hohoho,rupanya bung Herdy ngga suka politik,yah?hehehe…memnbaca postingan bung herdy, saya jadi ingat dengan kata-kata :semua manusia memiliki satu kesamaan : semuanya berbeda. salam dari blogger manado.
September 28, 2008 pada 5:50 am
fitri mohan
maaf jika OOT dan nggak ada hubungan dengan postingan. saya ingin mengucapkan selamat lebaran 2008. minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin ya mas herdy.
Oktober 16, 2008 pada 5:55 am
hanggadamai
wah diriku gak ngerti politik …
November 12, 2008 pada 3:13 am
alpian
politik di negara ini sudah tidak pas lagi,kepada bapak atau ibu sekarang yang mencalonkan diri sebagai anggota dewanharap politik saudara di benahi agar tidak merugikan negara.bayangkan korupsi terbanyak di indonesia paling besar yakni perlakuan bejat para orang orang pemimpin negara sungguh memalukan.
Desember 4, 2008 pada 4:07 am
agus
Mantap Bos. Maju terus pantang mundur. Marketing juga butuh politik lho…………………..