Gde Prama pernah bilang seperti ini, kebahagiaan itu gak bisa dibeli dengan uang. Kalo kebahagiaan itu bisa dibeli, pastinya orang-orang yang berlimpah uang akan ramai-ramai membelinya. Gak akan ada penderitaan dari dalam rumah mewah. Tapi lihat betapa banyak air mata tercurah malah berasal dalam rumah-rumah mewah. Penderitaan karena perselingkuhan, penderitaan karena anak-anaknya salah arah dan pergaulan……
Lantas,
kebahagiaan itu seperti apa?
Dimana kita mencarinya?
Apakah ada yang tepat mengartikannya?
Menurut siapa? Mungkin seperti itulah kontroversi tentang arti kebahagiaan. Aneh ya hari gini masih ngomongin kebahagiaan?Kayaknya dah mulai menarik nih :D Tidak bermaksud narsis kok hanya menghibur diri sendiri aja. Lagipula saya tak punya cita-cita mati klelep layaknya Narcissus, he. Ok, sebenarnya kebahagiaan itu nggak mengenal kata belum lho. Yang ada juga kita itu bahagia atau nggak. Mutlak nilainya, nggak ada istilah setengah bahagia, nggak ada ungkapan nyaris bahagia. Jadi bentuknya bulat penuh. Persis seperti… ehm! Kok kenyal juga? Iya lah… karena hidup itu kan pasti ada saja cobaannya baik itu penderitaan, kesedihan bahkan kesenangan juga cobaan. Dan orang yang bahagia itu tentunya sama juga kan seperti yang lainnya, tetap mempunyai hati, yang bisa merasakan sakit dan kecewa. Kenyal itu adalah kemampuan hati kita untuk menerima sekaligus menepis segala cobaan sehingga tetap membuatnya nggak kehilangan kebahagiaan. Begitu maksudnya…
Sebenarnya saya nulis ini karena terinspirasi oleh seseorang. Seseorang yang saya kenal dekat. Seseorang yang saya kagumi karena ketabahan akan penderitaan yang menderanya. Namun ia tetap bersemangat dan nggak mau putus asa. Seorang wanita, cantik… sangat cantik. Pastinya orang-orang mengira ia bahagia karena kecantikannya. Kecantikan yang akan membuat iri bagi siapapun yang melihatnya. Padahal bukan, bukan kecantikan yang membuatnya bahagia, tapi ada sesuatu yang jauh lebih cantik yang membuatnya bahagia meski penderitaan begitu kejam menyiksanya. Hatinya… pengorbanan untuk orang-orang yang dikasihinya.
Dua tahun yang lalu dia didiagnosa menderita penyumbatan pada tuba falopi. Ada kista dan terakhir endometriosis. Sebenarnya keluhannya udah dari semester-semester awal dia kuliah sekitar 7 – 8 tahun yang lalu namun nggak dirasakan. Baru diperiksa sekitar 2 tahun yang lalu karena sakit yang teramat sangat di pinggang dan bagian dalam perutnya. Segala pengobatan udah dicoba bahkan sampai Laparascopi satu setengah tahun yang lalu. Sakitnya belum juga kunjung sembuh. Setiap waktu, setiap malam dia meringis menahan sakit, kadang juga dia menangis jika sakit udah nggak tertahan. Terkadang dia telpon kepada saya ketika sedang menangis menahan sakit, bercerita sekedar untuk melupakan nyeri di dalam perut dan kemeng di pinggangnya. Ketika activitas pekerjaan menyita energi dan pikirannya, keletihan kadang menstimulasi rasa sakitnya. Tapi dia tetap nggak pernah putus asa. Yang terbayang hanya raut muka ayah dan ibunya yang sudah membesarkan dan mengasihinya jika dia menyerah dan berhenti bekerja. Dia takut ketika orang tuanya membutuhkan sesuatu dia tidak bisa membantunya. Ini adalah kebahagiaanku katanya. Bahagia karena melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia.
Dasyat nggak? Dia yang sendirinya menderita, masih memikirkan kebahagiaan orang lain karena itu membuatnya bahagia. Tapi memang benar, kita tidak bisa bahagia sendirian. Bisakah anda bahagia sendirian jika mengetahui orang-orang yang kita sayangi menderita? Saya kira kita semua masih belum gila dan masih memiliki sebentuk hati yang sehat seperti dia. Kita nggak akan pernah bahagia sedang saudara-saudara kita, orang-orang yang kita sayangi menderita.
Jadi kebahagiaan itu seperti apa? Mudah-mudahan mulai sekarang kita udah bisa mengidentifikasikannya. Mungkin jika kita tidak bahagia terus kita bertanya kenapa? Kita tidak perlu lagi melihat jauh-jauh untuk mencari jawabnya. Lihatlah sekeliling kita, anak istri kita, orang tua kita, adik-kakak kita, saudara-saudara kita. Apakah kita sudah benar-benar menyayanginya? Sudah bahagiakah mereka, jika tidak berikan apa yang kita bisa untuk membahagiakannya. Agar kita bahagia karena mengetahui mereka bahagia.
(Tulisan ini saya dedikasikan untuk kamu dan penderita penyumbatan tuba falopi, kista dan endometriosis dimanapun anda berada)











10 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Mei 28, 2007 pada 3:54 pm
kw
mengharukan.
aku miris membacanya. kalau diabndingkan dengan dia, aku ternyata amat sangat jahatnya.
eniwe thx udah ngasih ngasih jejak di blogku. salam kenal. nice 2 meet u
reagrds
Mei 28, 2007 pada 6:41 pm
Undercover
To. kw
Thanks balik mas…
Bukan untuk perbandingan kok mas, setiap orang itu unik. Pasti ada kelebihan juga kekurangannya.
Blog mas uda saya add.
Mei 29, 2007 pada 2:46 pm
Setahun serasa Seabad « herdy under cover
[...] Tidakkah kalian pernah merasakan kesedihan? Atau bisa jadi sebaliknya, kalian tak pernah tahu kebahagiaan itu seperti apa bentuknya sehingga kepedihan ibu kalian saja tidak bisa kalian [...]
Mei 30, 2007 pada 11:16 pm
anas
Haru, bener deh
, meski sempat berpikir mesum liat judulnya.
Mei 31, 2007 pada 10:55 pm
Evy
Aku dulu juga kena endometriosis aku sering pingsan menahan sakit, sebenrnya bisa di obati gampang cuman satu obatnya menikah dan hamil atau bila belum bisa minum pil KB aja itu isinya hormon untuk menyeibangkan estrogen…coba konsultasi lagi sama dokternya, meski cukup bahagia ya tetep kud usaha
Oktober 30, 2008 pada 3:00 am
pupa
aku sudah menikah cukup lama dan belum punya anak karena ada masalah penyumbatan tuba di kiri dan kanan, kata dokter aku harus ikut bayi tabung….yang paling membahagiakan suamiku tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Januari 22, 2010 pada 2:19 am
aimeebeauty
Kebahagiaan itu bersumber dari hati yang gembira. Gak muluk, gak perlu banyak tuntutan. Tapi hati yang gembiralah yang membuat segalanya indah dan menyenangkan. Hati yang gembira muncul dari kesadaran untuk mengucap syukur akan segala hal yang kita terima dalam hidup. Bersyukur di saat terpuruk ada yang mendampingi, di saat limbung ada yang menguatkan. Di saat sakit ada yang memperhatikan dan merawat, di saat sedih ada yang menghibur. Sebenarnya segalanya berawal dari hal sepele, dan hal kecil. Selamat mencoba………
Mei 27, 2010 pada 1:27 pm
Adeline Paz
If only more than 62 people could read this..
Mei 29, 2010 pada 8:34 pm
Maryellen Michaels
If only I had a nickel for each time I came here! Incredible post.
Juni 2, 2010 pada 1:23 pm
ayi
sedih, tapi beri semangat baru..aq sedang berjuang utk bisa hamil,
aq semakin rajin terapi, semoga sumbatan di kedua tuba q bisa kebuka..