Gde Prama pernah bilang seperti ini, kebahagiaan itu gak bisa dibeli dengan uang. Kalo kebahagiaan itu bisa dibeli, pastinya orang-orang yang berlimpah uang akan ramai-ramai membelinya. Gak akan ada penderitaan dari dalam rumah mewah. Tapi lihat betapa banyak air mata tercurah malah berasal dalam rumah-rumah mewah. Penderitaan karena perselingkuhan, penderitaan karena anak-anaknya salah arah dan pergaulan……

Lantas,

kebahagiaan itu seperti apa?

Dimana kita mencarinya?

Apakah ada yang tepat mengartikannya?

Menurut siapa?
Mungkin seperti itulah kontroversi tentang arti kebahagiaan. Aneh ya hari gini masih ngomongin kebahagiaan? :D  Tidak masuk akal, tapi bagi saya nggak. Karena apa, setiap bertanya kepada seseorang… tujuan hidup mereka itu ujungnya adalah memperoleh kebahagian. Kerja keras banting tulang agar bahagia, menikah semoga bahagia, bersekolah tinggi-tinggi agar kelak bisa bekerja layak, hidup berkecukupan dan bahagia, apa lagi? Lantas setelah sekian lama dan orang-orang yang saya sebutkan tadi udah kaya, udah mempunyai anak-anak dari hasil pernikahan, udah bekerja dengan sangat layak dan berkecukupan kemudian ditanya lagi, apakah ente sudah bahagia? Mereka menjawab belum! Orang yang aneh bukan?

Kayaknya dah mulai menarik nih  :D
Tidak bermaksud narsis kok hanya menghibur diri sendiri aja. Lagipula saya tak punya cita-cita mati klelep layaknya Narcissus, he. Ok, sebenarnya kebahagiaan itu nggak mengenal kata belum lho. Yang ada juga kita itu bahagia atau nggak. Mutlak nilainya, nggak ada istilah setengah bahagia, nggak ada ungkapan nyaris bahagia. Jadi bentuknya bulat penuh. Persis seperti… ehm! Kok kenyal juga? Iya lah… karena hidup itu kan pasti ada saja cobaannya baik itu penderitaan, kesedihan bahkan kesenangan juga cobaan. Dan orang yang bahagia itu tentunya sama juga kan seperti yang lainnya, tetap mempunyai hati,  yang bisa merasakan sakit dan kecewa. Kenyal itu adalah kemampuan hati kita untuk menerima sekaligus menepis segala cobaan sehingga tetap membuatnya nggak kehilangan kebahagiaan. Begitu maksudnya…

Sebenarnya saya nulis ini karena terinspirasi oleh seseorang. Seseorang yang saya kenal dekat. Seseorang yang saya kagumi karena ketabahan akan penderitaan yang menderanya. Namun ia tetap bersemangat dan nggak mau putus asa. Seorang wanita, cantik… sangat cantik. Pastinya orang-orang mengira ia bahagia karena kecantikannya. Kecantikan yang akan membuat iri bagi siapapun yang melihatnya. Padahal bukan, bukan kecantikan yang membuatnya bahagia, tapi ada sesuatu yang jauh lebih cantik yang membuatnya bahagia meski penderitaan begitu kejam menyiksanya. Hatinya… pengorbanan untuk orang-orang yang dikasihinya.

Dua tahun yang lalu dia didiagnosa menderita penyumbatan pada tuba falopi. Ada kista dan terakhir endometriosis. Sebenarnya keluhannya udah dari semester-semester awal dia kuliah sekitar 7 – 8 tahun yang lalu namun nggak dirasakan. Baru diperiksa sekitar 2 tahun yang lalu karena sakit yang teramat sangat di pinggang dan bagian dalam perutnya. Segala pengobatan udah dicoba bahkan sampai Laparascopi satu setengah tahun yang lalu. Sakitnya belum juga kunjung sembuh. Setiap waktu, setiap malam dia meringis menahan sakit, kadang juga dia menangis jika sakit udah nggak tertahan. Terkadang dia telpon kepada saya ketika sedang menangis menahan sakit, bercerita sekedar untuk melupakan nyeri di dalam perut dan kemeng di pinggangnya. Ketika activitas pekerjaan menyita energi dan pikirannya, keletihan kadang menstimulasi rasa sakitnya. Tapi dia tetap nggak pernah putus asa. Yang terbayang hanya raut muka ayah dan ibunya yang sudah membesarkan dan mengasihinya jika dia menyerah dan berhenti bekerja. Dia takut ketika orang tuanya membutuhkan sesuatu dia tidak bisa membantunya. Ini adalah kebahagiaanku katanya. Bahagia karena melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia.

Dasyat nggak? Dia yang sendirinya menderita, masih memikirkan kebahagiaan orang lain karena itu membuatnya bahagia. Tapi memang benar, kita tidak bisa bahagia sendirian. Bisakah anda bahagia sendirian jika mengetahui orang-orang yang kita sayangi menderita? Saya kira kita semua masih belum gila dan masih memiliki sebentuk hati yang sehat seperti dia. Kita nggak akan pernah bahagia sedang saudara-saudara kita, orang-orang yang kita sayangi menderita.

Jadi kebahagiaan itu seperti apa? Mudah-mudahan mulai sekarang kita udah bisa mengidentifikasikannya. Mungkin jika kita tidak bahagia terus kita bertanya kenapa? Kita tidak perlu lagi melihat jauh-jauh untuk mencari jawabnya. Lihatlah sekeliling kita, anak istri kita, orang tua kita, adik-kakak kita, saudara-saudara kita. Apakah kita sudah benar-benar menyayanginya? Sudah bahagiakah mereka, jika tidak berikan apa yang kita bisa untuk membahagiakannya. Agar kita bahagia karena mengetahui mereka bahagia.

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk kamu dan penderita penyumbatan tuba falopi, kista dan endometriosis dimanapun anda berada)